Sabtu, 26 Mei 2018

#RamadhannyaKenun : Buah Perilaku


“Bu Ain, hari minggu lebarannya kurang 20 hari ya?”
---

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh



Iya nggak sih, dulu waktu kecil bulan ramadhan adalah perjuangan banget. Minimnya pengetahuan tentang puasa yang sebatas ‘nggak makan dan nggak minum, malemnya tarawih dengan rakaat banyak’ adalah hal yang berat. Pertanyaan” lebaran kurang berapa hari, Mak?” memberi semangat tersendiri. Selain itu, kita juga jago berhitung. Yapsss, menghitung berapa hari puasa dan berapa hari menuju lebaran serta berapa jam lamanya menuju adzan berbuka puasa. Dari yang nangis nggak kuat nahan laper sampai diem-diem nelen air wudhu’. (eaaaakkkkkk, nguquq)

Namun seiring dengan bertambahnya waktu dan tentunya pemahaman tentang puasa, kita jadi  paham makna ramadhan yang haqiqi *tsaaah* (nggak hanya tidur aja tapi ngejar pahala yang alhamdulillah dilipat gandakan sama Allah bulan ini). Begitu pula dengan hidup ini *tsaaahhh lagi ah*.

Apapun perilaku kita akan ada balasannya. Entah itu dari Allah ataupun dari sesama manusia. Jadi bisa lebih mengontrol dan memaknai perilaku kita. Apakah perilaku ini akan berdampak negatif atau positif buat kita sendiri dan orang lain? Apakah perilaku ini ikhlas kita lakukan atau hanya berpura-pura demi tujuan tertentu?

Astaghfirullahaladzim.... pusingeh syudah ini qepallaaaa... hahaha entah nyambung apa enggak, ini tulisan ditulis dengan sadar saat bangun tidur dan baru ingat belum nulis edisi #RamadhannyaKenun... wakak... Semoga berfaedah, dan tengkyu udah baca.

Wassalamu’alaikum Warokhmatullahi Wabarokatuh...


NB: Mungkin saya butuh ngopi jadi saya buat kopi dulu. Tapi ternyata saya butuh ngopi bareng temen. Karena ngopi yang haqiqi adalah berbonus share isi kepala kepala masing-masing. Bukan sekadar nyruput haha hihi, kelar dan pulang. *ngakak*

Jumat, 25 Mei 2018

#RamadhannyaKenun : Yang Penting Yakin



Pernahkah kamu mengikuti sebuah lomba dan kamu yakin bahwa kamu pasti juara, dan ternyata keyakinan itu terjadi?

“Iya, saya pernah.”

---

Assalamu’alaikum warokhmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah kita masih dikasih nikmat beribadah di bulan ramadhan nih gaes. Bulan istimewa yang memanjakan kita. Gimana enggak? Fadilah disetiap sholat tarawih yang subhanallah menakjubkan, suasana malam yang ramai dengan tadarusan, ngabuburit yang hanya ada di bulan ramadhan. Saking dimanjanya nih, tidur kita saja ibadah. Eittssss tapi jangan tidur mulu, nggak mau rugi kan? *muehehe*.

Nah, dimulai dari curhat (lagi dan lagi? iyess). Kalian sering nggak ketemu sama orang yang sukanya bilang,

“Ah... susah nih.”
“Bisa nggak ya?”
“Aku nggak bisa nih, kamu aja yang kerjain.”

Sering kan? Nggak munafik, aku juga termasuk orang macam itu, tapi zaman dulu sih, zaman di mana seorang Kenun ketika diberikan tugas mindsetnya menafsirkan itu adalah beban. *hadeeh*


Yaps... Jadi ketika dihadapkan pada masalah atau tugas negara (tugas kehidupan-red) dan kita berpikir itu adalah beban, yang terjadi adalah mengeluh duluan. Padahal kita belum tahu berat atau enggaknya tugas itu sebelum kita melakukannya.

Sama halnya dengan aku SMP dulu, tepat kelas 3 aku ditunjuk walas buat lomba pidato mewakili kelas. Awalnya ragu sih, tapi yakin walas nggak bakal asal nunjuk kalau emang akunya nggak mampu *ceileeee, sa ae rang pede mah*. Meskipun aku berharapnya ditunjuk wakilin kelas buat lomba cerdas cermat *ngakak*, tapi beneran aku pengin banget ikut lomba itu *ngakak gulung-gulung*.

Dan lomba pun berlangsung, ternyata nervous cuma berlangsung di menit pertama doang, selanjutnya enak banget aku ngomong. Setelah mengamati peserta lainnya, kok aku jadi yakin aku pasti dapet juara nih, juara 1 pula (Ya Allah pedenya hambamu ini menakjubkan banget). Dan apa yang terjadi, pas diumumin di upacara aku beneran dapet juara 1 dong. (wagelaseh, aku senyum-senyum gak jelas gitu sambil maju ke depan. *sombongnyaaah*...

Bukan masalah sombong sih (meskipun ada dikitlah), aku senyum-seyum  itu sambil mikir sih karena ternyata apa yang aku yakinin beneran kejadian. Inikah yang dinamakan Keyakinan membuat segalanya jadi mungkin dan Cinta membuat segalanya jadi mudah *plakkk*.  Setelah moment itu, aku mulai mengubah mindset bahwa apa yang kamu yakini itulah yang bakalan terjadi. Jadi sejak itu aku selalu bilang “Nun, Kamu pasti bisa! Bismillah..”



-Terus apa yang kamu yakini pasti terjadi, Nun?



Enggak dong, enak banget hidup akoh kalau gitu.

-Loh, kok?

Karena apa yang kita yakini belum tentu itu baik buat kita, Jadi tetep yakin aja Allah kasih kita yang terbaik lewat keyakinan yang nggak terealisasi itu tadi. Setidaknya lewat yakin kita bisa lebih semangat dan nggak gampang mengeluh, jadi jatuhnya lebih enak ngerjain sesuatu ngak dipikir beban kaya yang dulu-dulu.

Tapi ngerti nggak kalau aku pernah meyakini ke”tidak yakin”an? Bahkan sering, karena berbagai faktor dan alasan. Dan itu sampai sekarang. Meskipun aku selalu yakin, tapi meyakini ketidak yakinan adalah masalah yang belum terpecahkan buat aku pribadi. Namun setidaknya aku selalu yakin bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar dan orang-orang yang beriman , Ketika aku meyakini ketidak yakinan karena memang itulah yang harus aku yakini (eaaakkkk mulai butuh asupan bakso nih olang *mueehehe*). Mungkin karena kau tipe pemikir kali yak. Semoga selalu sabar biar bisa disayang Allah, trus dikirimin jodoh. *plakkk*



Yaudah segitu aja, kita harus yakin ibadah kita di bulan ramadhan lancar dan barokah. Aku juga yakin besok bakalan bisa nulis #RamadhannyaKenun Day 10.  Amiin. Eh, kalian punya kisah yang sama nggak tentang yakin ini? Share dong...

Wassalamu’alaikum warokhmatullahi wabarokatuh


(Kecup sayang sama semuanya yang udah mau baca) *yakin aja deh*

Kamis, 24 Mei 2018

#RamadhannyaKenun : Membiasakan Diri Selama 3hari, You Wanna Try?



Assalamu’alaikum warokhmatullahi wabarokatuh...

Selamat bersantap sahur, Happy fasting gaes... Semoga kita mendapat rahmat Allah di sepuluh hari pertama bulan ramadhan. Amiin.

Mau nulis-nulis aja disela kesibukan (eaakkk, sa ae wa olang sok sibuk). Dulu produktif banget nulis, sampai-sampai file di komputer numpuk dengan macam-macam tulisan. Kini? Buka laptop cuma buat nugas. Sepertinya harus dibiasakan lagi deh gemar menulisku ini, kelihatan banget banyak kemundurannya setelah baca beberapa tulisan dimasa lampau (tsaahhh).

Kemarin aku sempat baca di twitter Tahukah Anda ?, menurut Mind Clock Word bahwa rata-rata untuk membentuk sebuah kebiasaan diperlukan waktu minimal 66 hari.

Hmmmm, 66 hari ya? Lama banget.... nyerah duluan deh akunya. *gak berjuang banget orangnya*. Tapi kalau dikasih pilihan waktu lebih singkat sih, akunya iyes dong.

Nah, berbekal hasil share sama temen pas ngopi, Kalau nggak salah waktu itu aku lagi curhat masalah insomnia. Sebel kan kalau nggak bisa tidur, apalagi sampai hitungan hari. Dan insomnia goalsku (apalah ini) 3 hari. Bayangin gaes... 3 hari nggak tidur, Organ-organ aku apa kabar itu yah? (menurut lauuuu?).

“cobain deh, 3 hari aja kamu biasain tidur sebelum jam 9, paksain tidur deh.”

Dan, akupun mencobanya. Bodoh amat ada tugas yang belum selesai atau perut laper (biasanya jadi alasan penting kenapa mata susah merem), bismillah aku paksain tidur sebelum jam 9. Dan, subhanallah, 3 hari setelahnya maksimal jam 8.30 malem aku udah nggak betah melek aja. Tidur pules dan bangunpun bisa lebih pagi dong, dan tanpa alarm *terharu*. Nah paginya itu bisalah di buat ngerjain tugas biar abis sholat subuh nggak tidur lagi.


Nah, aku jadi keranjingan banget nyobain treatment 3 hari ini (sa ae treatment), dari jam makan, jam tidur siang, bahkan sampai jam buang air besar, beuh dahsyaattt deh. Dan semua berawal dari membiasakannya selama 3 hari. Dan baru kepikiran juga nih membiasakan diri nulis, dan ini hari pertama semoga bisa konsisten selama tiga hari biar bisa jadi kebiasaan selanjutnya. Makanya aku bikin hastag #RamadhannyaKenun di blog ini, wakak, biar besok bisa nulis lagi. semoga berhasil seperti tratment-treatment sebelumnya yah. Amiin. (Kuota, mohon bantuannya yaaaa, *iyaaaaa*). Kalau kalian penginnya apa nih? Hyuukkk sama-sama coba tratment 3 hari ini. 


Sementara ini dulu deh yang mau di share, semoga bermanfaat ya gaes. Terima kasih sudah baca. Jangan lupa ngopi bareng-bareng biar xoxoxo dan awuwu. *hadeeh*...  

Wassalamu’alaikum....

Sabtu, 27 Januari 2018

JANGAN 50% dan FREEONG, BERAT. PELAN-PELAN SAJA (PART 2)


Assalamu’alaikum.... Saya kembali dengan cepat. Mumpung servernya lagi malem mingguan jadi bisa mainan bentar. Ceile jomlo mainnya blog, curhat mulu lagi. Dah dah, serah aku.

Lanjut yang tadi ya...

Jadi sebelum paket Harbolnas gramedia aku sampai, banyak yang ngetweet kalau mereka dapat surel refund. Aku khawatir dong ya. Secara buku aku yang belum dikirim kurang 1 dan yang masih otw lama pakai bingit statusnya udah pesanan diantar sejak tanggal 17, enggak sampai-sampai. Duh, jangan sampai deh aku dapet surel refund dari customercare gramedia.

Akhirnya, 26 Januari 2018, aku dapet surel yang judulnya “Bagaimana Penyelesaian Pesanan Harbolnas Anda?” yang isinya ngasih aku 2 pilihan:

  1. Pencarian kembali buku-buku yang belum dikirim/mendapatkan nomor resi dan mengirimkan kembali serta dapet tanda permintaan maaf berupa kupon diskon berbelanja di gramedia.com (lagi) sebesar 15%. 
  2. Mengembalian dana senilai nominal yang dibayarkan untuk buku-buku yang tidak dapat dikirimkan dan dapet tanda permintaan maaf berupa kupon diskon berbelanja di gramedia.com (lagi) sebesar 15%.


Kupon akan dikirimkan pada pertengahan Februari. Sedangkan refund dana atau pencarian kembali buku yang mau dikirim akan diproses selama 14 hari kerja setelah data diterima.

Aku pilih nomer 1 dong. Alasannya karena pesanan aku tinggal satu buku lagi. Jadi mending aku nunggu lagi dari pada refund dana (Jomlo kesabarannya tingkat dewaaaaaa). Sebelum dapat surel inipun aku udah bales surel terakhir kalau aku nggak mau refund, aku maunya buku aku dikirim aja, dan sudah direspon baik.


Tapiiiiiiiiiiiiii, setelah konfirmasi Data. Nama aku sama nomer telepon aku kok jadi salah ya. Padahal aku ngisi udah bener deh, kok jadi nomer telepon berubah jadi nomer rekening. Akhirnyaaaa dengan kekuatan hengpong batre tinggal asuprit aku heboh lagi balesin surelnya cc gramedia. Sampai sekarang belum dibales sih, kan bukan hari kerja juga. Semoga aja cepet dibenerin dan pesanan aku sampai selamat dan sehat wal afiat.

MARI MENUNGGU NUN, SAMBIL NYEDUH.
---
Begitulah drama yang belum tahu endingnya bakal gimana. Sebenernya konsumen nggak akan tubir sih kalo emang pihak Gramedia bisa jujur dan nggak tebar janji serta maaf. Cukup jawab aja meskipun bukan balesin mention atu-atu. Yang penting tegas aja kasih jawaban kan kitanya enak.

Kaya pengumuman terakhir, kalau misalnya kota di Jawa bakalan diselesaikan orderannya di minggu ke-3 bulan Januari. Dan emang beneran ditepatin, meskipun enggak semua buku yang dikirm sih. Aku aja bingung, katanya udah ada di ARK semua tapi kok masih dicarikan bukunya yang belum dikirim. Aku kurang faham tentang sistem kerjanya itu kaya gimana, yang aku tahu selama ini pakai POS, JNE, JNT nggak anu-anu banget deh.


Kesimpulannya, aku nggak kapok buat belanja di gramedia.com lagi. Asalkan Harbolnas 2018 diskonnya masih gedhe dan pembeli bisa pilih ekspedisi pengirimannya sendiri, nggak ditentuin sama gramedianya. Dan lagi, nggak usah tebar janji kalau ujung-ujungnya minta maaf karena sadar pelayanan mereka tidak memuaskan pelanggan. Persiapkan yang matang ya min buat tahun ini, jangan sampai menjanjikan hal semenggiurkan begitu tapi jatuhnya kalang kabut. Atau kalau berat mending  kasih diskonnya gausah gedhe dulu, buat pemanasan biar sehat kedepannya. Toh, toko buku online lain baik-baik aja pas harbolnas.

Yaudahlah, sekian untuk hari ini curhatnya.

Oh, iya. Aku janji nulis cerbung ya? Aiiihhhh hectic banget aku belum bisa utak-atik itu draft. Tapi tetep bulan ini aku udah baca 4 buku, perkembangan yang prok prok prok. Dan ini juga lagi baca buku ke-5, widiiihhh sadap. Tunggu reviewnya yaaa.... yang jelas bukan bulan ini aku posting. Maaci udah baca, muahmuah.

Babai lagi, Wassalamua’alaikum.

NUN

JANGAN 50% dan FREEONG, BERAT. PELAN-PELAN SAJA.


Assalamu’alaikum... Akhirnya aku ingat kalo punya blog. Hehe. Alhamdulillah meskipun niatnya nulis Cuma mau curhat doang.

Jadi gini, Harbolnas yang diadakan setiap tanggal 12-12 itu adalah hari belanja online dengan diskon besar-besaran. Nah, karena aku sukanya buku, jadi udah ngincer dong toko online mana yang ngasih diskon aduhai tralala sejak awal bulan Desember. Ketemulah deh sama Gramedia.com yang cocok buat kantong aku yang udah ngap habis dikuras buat ngerjain tugas diksar.

Bayangin coy, diskon 50% setiap bukunya plus gratis ongkir pula, kerja sama dengan ekspedisi ARK Express, gimana nggak mimisan nih pecinta buku. Aku aja sampai bingung pilih-pilih buku mana aja yang masuk list dan sesuai budget. Mana ada embel-embel pengirimannya cepet kan. Duh.... udah girang aja liburan bakal baca buku-buku inceran. Dan aku juga nawarin temen ngajar kali aja minat, eh beneran mereka mau order juga. Alhamdulillah, aku kan seneng jadinya kalo belanja banyak gini. Wakak.

Singkat cerita lancar deh proses order sampai bayarnya. Nggak ada kendala sama sekali. Dari awal juga nggak ada curiga, ngapain juga curiga sama toko sekelas Gramedia, yakinlah mereka bakal profesional.

Dan jeng jeng jeng.... Drama Harbolnas dimulai. Dan baru sekali ini aku belanja pas harbolnas main drama-dramaan. Pemainnya pada maya lagi, set dah.

Dengan alasan membludaknya orderan (yaelah harbolnas ini, ya jelaslah) tim gramedia.com janji selambat-lambatnya tanggal 22 Desember 2017 pesanan bakalan dikirim. Dan okelah akupun menunggu dengan sans dan cans.

Eng ing eng, setelah janji tak kunjung ditepati, akupun resah dong. Akhirnya kepoin fanpage dan twitternya gramedia.com, dan udah banyak aja yang komplain. Dah aku juga ikutan dong , muehehe. Ternyata nggak dapet respon. Soalnya nggak enak juga kan temen ada yang nitip ini.

Alhamdulillah, tanggal 21 Desember jam 2 siang,  aku dapet surel kalau pesanan aku dalam perjalanan, girang dong, tapi pas scroll ke bawah kok ya ngagetin. Dari 8 buku yang aku order Cuma 1 doang yang dikirim, Sirkus Pohon-nya Andrea Hirata. Serius nih? Akhirnya kepoin lagi medsosnya Gramedia.com, dan ternyata emang buku dikirim secara berkala. Jadi yang ada stok ya dikirim, sementara yang nggak ada masih diusahakan dicari di gudang penerbit. Tapi ini serius satu buku doang? *krayyy hard* dan buku itu sampai di rumah aku tanggal 28 Desember (lama bingit) dengan tambahan ongkos bensin Sang Kurir.

Tanggal 25 Desember aku dapat surel lagi dengan keterangan 2 buku yang dikirim. Petjah-nya Oda Sekar Ayu sama Pingkan Melipat Jarak-nya Sapardi Djoko Damono. Dan paket sampai tanggal 2 Januari 2018 plus ongkos bensin Sang Kurir. Hadehhh, tekor dah.

Surel ketiga dikirim tanggal 3 Januari 2018 dengan keterangan 3 buku yang dikirim, Paket Boy Candra, Dan ini pesenan temen ngajar aku. paket sampai tanggal 9 Januari. Paket tercepat dan tidak usah ongkir tambahan, kurirnya beda, bapak kurir yang baik. muah.

Surel keempat, iya empat muehehehe, tertanggal 15 januari 2018 dengan keterangan 1 buku yang dikirim yaitu Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono. Gusti Allah, berarti tinggal satu buku lagi dong. Berat banget harbolnas tahun ini. Dilan, bukan rindu aja yang berat loh. Aiiihhh. Jeduaakkk!!!. Dan paket mendarat syantik saat aku capek pulang rapat, tanggal 24 Januari 2018. Langsung muka aku segeran. Hahay.

Nah, mau tau tau episode selanjutnya seperti apa? Dan bagaimana nasib 1 buku aku yang belum dikirim itu? Tunggu post selanjutnya yay...

EIIITTTTSSSS.... Ada yang senasib nggak nih? Share dong di kolom komentar, kali aja pernah belanja online yang pelayanannya nyebelin gini? Biar apa nun? Biar nggak sebel dewean. Wakak.

Ini yang udah sampai dan selesai dibaca. Aku nggak kalap banget sih, cuma order 5 buku. budget boookkkk.

Babai, Wassalamu’alaikum.
Terima kasih udah baca.

Nun.

Selasa, 05 Desember 2017

InsomINUN: Baca, Lihat, Dengar (?)

Seduhlah secangkir kopi, lalu nikmati apa-apa yang ia tinggalkan setelahnya.



_-_-_

Assalamu'alaikum.... ya beginilah lagi nggak bisa tidur, syukurlah jadi bisa nulis blog. sekadar casciscus nggak penting, no problemo lah yay, suka-suka aku. *ngakak hard kemudian krik*

So, aku  udah mulai baca buku lagi nih yang lama banget dianggurin karena nugas yang berfaaedah bagi masa depan, amiin.

Diawali dengan buku "Rentang Kisah"-nya Gitasav.
Jadi aku kenal Gitasav ini pas mainan youtube, dia sering muncul gitu di timeline. Karena tertarik dengan videonya dia yang bahas tentang kuliah di Jerman alhasil aku nonton dan ternyata videonya udah banyak banget pun yang subscribe dia. Yang bikin penasaran lagi kayaknya wajah dia nggak asing deh. Akhirnya aku tonton dong video lainnya sampai rasa penasaran ini terpuaskan (hadeh). Dan ternyata dia yang nyanyi lagu tanah airku versi keroncong yang sering aku dengerin. Bedanya sekarang dia berkerudung. Pantesan familiar tuh wajah.


Singkat cerita dari akun youtubenya dia, aku jadi follow ignya dan ternyata dia adalah social media influencer, hmmm, dia nulis blog juga. Aku suka tulisannya,nah itu kenapa aku beli bukunya dia. Yang sampai akhir november kemarin.

Bukunya menarik, banyak banget hal yang bisa kita pelajari khususnya tentang hidup. Meskipun dia lebih muda dari aku, tapi kedewasaan dari cara pandang dia patut diacungi jempol sih. Apalagi dalam memahami islam dan memaknai hidup.

Di buka dengan bab yang berjudul Ibu Selalu Salah, nah ini pastinya sering banget dialami remaja zaman now yang lagi gandrung micin. Lanjut ke zaman kuliah sampai share tentang kisah asmara dengan Paul yang beda agama sampai jadi mualaf. Upss, Nggak mau spam ah, baca sendiri yay. Yang mau pinjem bukunya ke rumah.

Lanjut baca “Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya”, karya Lugina W.G, dkk.

Kalau buku ini baru beli kemarin di bazar buku, karena tertarik sama blurb dan ada nama M. Aan Mansyur. Alhamdulillah nggak salah pilih. Buku kumpulan cerpen terbitan Diva Press ini berisi cerpen pilihan #KampusFiksiEmas2016, pantesan bagus banget tulisannya. Pilihaaaan.... *prok prok prok*. Dan akan disusul dengan bacaan lainnya yang menunggu di rak buku dengan sabar.

Oh iya, aku juga ada draft review buku yang sebenarnya tinggal masukin beberapa kutipan dan foto. Berhubung bukunya masih dipinjam dan belum balik, ku bisa apa.. #huft (((plisss, gaes, balikin)))


Selain baca, aku juga lagi repeat nonton The Return Of Superman, sekalian lanjut karena ada shodaqoh banyak episode ini, dulu nontonnya langsung di youtube sih nggak kepikiran disave (hadeehh). Suka banget dapet ilmu parenting sekaligus hiburan. Muehehe. Bekal coy kalau nanti jadi emak-emak.

Oh iya, Aku juga lagi kepikiran ide biar nulisnya jadi rajin (insyaallah), bikin project nulis cerbung asik kali yay, banyak draf novel aku yang mangkrak lama dan udah mulai kriput(?)... gimana? Gimana? Gi-ma-na???

Finally, kita tutup blog ini dengan quote dari buku Rentang Kisah,

Kita Cuma bisa mengandalkan diri sendiri untuk bisa meraih apa yang kita inginkan,


So, terima kasih udah baca. Tunggu post aku selanjutnya (asikkk nulis lagi, tahun depan, diyeeengggg). Wassalamu’alaikum...


Nb: Nulis ini ditemani lagunya IU, Jessica Jung dan Destiny's Child. *binaran mata penuh cinta*

Kamis, 09 November 2017

WAKTU

Assalamu'alaikum..... Gimana hari ini? seru nggak? aihhh lama kali ini gak nulis. Mumpung nugas onlinenya lagi muter-muter, nungguinnya sambil nulis asik alig pasti. wakak....



Waktu adalah nikmat yang Allah berikan namun sering kita lalai terhadapnya. Contohnya aku, orang yang dulu suka nunda-nunda nugas dengan alasan, “Ah... udahlah Nun masih lama ini deadlinenya. Santai aja. Nikmatin waktu buat santai biar ntar pas ngerjain otaknya fresh.”


Dan apa yang terjadi. Dikerjainlah itu tugas pas deadline udah bener-bener mepet. Super duper kalang kabut dan efeknya jadi kemana-mana. Telat makan dan jatuh sakit adalah bonus dari kesewenang-wenanganku mempermainkan waktu. Hadeh, pliss.


Karena tugas dikerjainnya mepet, otomatis hasilnya nggak sesuai dengan apa yang diharapkan. Malah jauh dibawah apa yang aku mau. Istilahnya Gatot, gaes. Dan setelah gagal timbullah penyesalan yang menenggelamkan semua semangat dan ion-ion postif yang ada. Dan berakhir pada kata terpuruk yang memperburuk apa yang sudah buruk.

Dari sekian kegagalan yang aku alami. Kegagalan terbesar adalah sat aku mengecewakan orang yang aku sayang dan berjasa dihidup aku. Dan itu semua berawal dari manajemen waktu yang semaunya aku. Dan berdampak besar baik bagi aku pribadi maupun bagi mereka.

Dari situ aku mulai paham apa makna dari waktu adalah pedang. Pedang yang menebas mampus banyak hal ketika aku tidak bisa menggunakannya dengan semestinya. Yakali pedang buat korek-korek kuping, atau buat nyikat cucian, apalagi buat makan cilok. Yaaah Be-gi-tu-la...h.

Dan aku juga mulai paham bahwa aku harus belajar dari kesalahan untuk merubah diri jadi lebih baik. Ketika penyesalan datang dan membuat semuanya buruk, aku tidak harus terus-terusan terpuruk dan menangisi kesalahan yang sudah diperbuat. Atau malah ngrengek-ngrengek minta sama Allah buat sekali aja muter waktu atau jadiin pintu kemana sajanya Doraemon jadi nyata.

Allah masih ngasih waktu buat aku. Meskipun awalnya susah karena beberapa kebiasaan buruk dan lupa menjadi faktor utamanya. Mulai menikmati waktu dengan hal-hal yang postif merupakan kemajuan buat aku. berusaha nggak telat dan menelatkan. jaga kesehatan biar gak gampang sakit, dan rajin menabung. Kok? #abaikan

Seperti malam ini, aku sedang bersyukur karena sesuatu hal yang membuat aku gaenak tidur belakangan ini. Setidaknya aku bisa mengenal tentang diriku dan diriNya lebih dalam lagi. Terima kasih. Selamat menikmati tengah malam. Wassalam